Kamis, 23 Agustus 2012

Biografi Wirausaha Sukses | Bob Sadino


Siapa orang yang tidak mengenal tokoh yang satu ini. Senang memakai kemeja lengan pendek, memakai celana pendek dan sering muncul dalam sinetron. Ya, beliau adalah Bob Sadino. Laki-laki ini sangat nyentrik. Dan Bob, begitu sapaan orang terhadap beliau, seolah yakin bahwa kakinya cantik, jenjang, eksotik dan membawa keberuntungan. Bob sangat cerdas dan selalu memiliki jawaban apabila ditanya mengapa memilih celana pendek dan kemeja lengan pendek atau kaos sebagai pakaian kebesarannya. Biografi Wirausaha Sukses dari Bob Sadino ini dihiasi dengan kisah yang bukan dimulai dari bunga mekar harum nan menawan.
Bob Sadino lahir di Lampung, 9 maret 1933 Kisah Wirausaha yang sukses asal Indonesia yang berwirausaha dalam bidang pangan dan peternakan. Beliau merupakan pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup serba berkecukupan. Beliau adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandung yang lain telah dianggap mapan.

Kisah Wirausaha yang Sukses Bob saat itu dimulai ketika beliau menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya ia singgah ke Belanda dan menetap disana selama 9 tahun. Disana dia bekerja di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika di Belanda dia bertemu dengan istrinya Soelami Soejoed.

Tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Jakarta. Ia membawa serta 2 mobil mercedez miliknya, buatan 1960. Salah satunya ia jual untuk dibelikan sebidang tanah di kemang Jakarta selatan sementara satunya lagi beliau simpan dan dipakainya sebagai mobil sewaan atau taxi. Bob sendiri yang menjadi sopirnya.
Namun sayang suatu ketika beliau mendapatkan keelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tidak ada uang untuk memperbaikinya Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya hanya Rp. 100. Beliau pun sempat mengalami depresi dan tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, teman Bob datang dan merasa kasian dengan keadaan Bob sekarang. Temannya menyarankan Bob untuk memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialami Bob. Dan Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi ber-wira usaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayamnya. Ia mendapat ilham, “ayam saja bisa berjuang untuk hidup walau hanya memiliki paruh dan kaki, tentunya manusia pun bisa lebih dari itu.”

Sebagai peternak ayam beliau bersama istrinya setiap hari berjualan telur. Dalam tempo satu setengah tahun ia dan istrinya memiliki banyak langganan terutama orang asing karena mereka fasih berbahasa inggris. Bob dan Istrinya tinggal dikawasan kemang Jakarta dimana banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan. Namun mereka mengaca pada diri sendiri memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu lama kelamaan Bob menjadi pemilik tunggal super market kem Chick. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat merambah ke agribisnis khususnya holtikultura mengelola kebun-kebun sayur mayur  untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wira usaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Seorang Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19 tahun.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi dijadikan taksi, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.


“Pengalaman adalah Guru yang eksentrik, Ia memberikan Ujian terlebih dahulu baru kemudian pelajarannya”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar